Minggu, 31 Agustus 2025 08:56 WIB

KH Miftachul Akhyar: Kekayaan Tidak Lepas dari Peran Orang Kecil, Jangan Lupa Bersedekah


  • Rabu, 16 Juli 2025 21:42 WIB

NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengingatkan para hartawan untuk tidak melupakan pentingnya berbagi, terutama kepada kalangan kecil yang turut berkontribusi dalam proses kekayaan yang mereka nikmati. Menurutnya, hubungan antara si kaya dan si miskin adalah keniscayaan sosial yang tak dapat dipisahkan.

"Tapi yang keterlaluan itu yang kaya raya (tapi) gak dermawan. Padahal kekayaannya itu karena jasanya orang-orang yang melarat. Kalau gak ada orang melarat gak bisa dia kaya. Siapa yang jadi karyawannya, siapa yang melaksanakan proyek-proyeknya, kalau ndak orang melarat," tegasnya dalam tayangan YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar dikutip, Selasa (15/7/2025).

Kiai Miftach, yang juga pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2023, menekankan bahwa hubungan antara kelompok atas dan bawah harus didasari semangat kebersamaan dan saling tolong menolong. Kekayaan, jabatan, dan kemudahan hidup tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan peran orang lain di sekitar.

"Kalau tahu begitu, ayolah yang kaya dengan yang melarat bareng-bareng gotong royong, jangan pelit," pesannya saat menguraikan hikmah dari penciptaan kondisi senang dan susah oleh Allah SWT.

Kiai yang dikenal luas lewat pengajian Kitab Al-Hikam ini menjelaskan bahwa kesadaran atas peran orang lain dalam hidup akan melatih seseorang untuk lebih ikhlas dan rendah hati, serta siap menghadapi fase kehidupan yang penuh dinamika. Ia menyebut, hidup ini tidak melulu soal keberhasilan, karena kegagalan dan cobaan adalah bagian dari cara Allah mendidik hamba-Nya.

"Gusti Allah menciptakan susah dan senang itu untuk menciptakan pangkat dan martabat kita. Orang yang siap menerima qabdhu dan basthu, sukses dan tidak sukses itu orang arif," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya tersebut.

Menurut Kiai Miftach, teladan dari para ulama sufi yang kaya namun tetap dermawan harus terus dihidupkan. Meski tidak mudah, sikap semacam itu dapat dilatih dengan memperbanyak amal dan menjaga hati dari kecenderungan ego pribadi.



ARTIKEL TERKAIT